Salah satu aspek kemampuan kemandirian pada si kecil adalah dapat buang air kecil dan buang air besar di toilet. Oleh karena itu, bagi para orang tua yang memiliki anak mulai usia 18 bulan, pasti tidak asing dengan aktivitas toilet training.

Apa Itu Toilet Training?

Melatih Anak Toilet Training
Melatih Anak Toilet Training

Toilet training adalah aktivitas melatih anak untuk dapat melakukan buang air besar dan buang air kecil di toilet, sehingga tidak perlu lagi menggunakan popok dalam kesehariannya. Toilet training harus dilakukan dengan kesiapan yang matang baik dari sisi anak maupun kesiapan orang tua yang mendampingi. Proses ini butuh kesabaran yang tinggi untuk dapat berhasil. Usia rekomendasi memulai toilet training adalah 18 bulan, yaitu usia rata-rata kesiapan anak dari segi kemampuan bahasa sudah dapat mengerti instruksi dan sudah dapat mengutarakan keinginan.

Apa Tanda Kesiapan Memulai Toilet Training?

Kesiapan anak:

  1. Sudah dapat mengerti instruksi sederhana (berguna ketika diajak untuk ke toilet)
  2. Sudah dapat mengutarakan maksud (berguna saat anak dapat menyampaikan keinginan ingin BAK/BAB)
  3. Dapat menahan pipis sekitar 1-2 jam
  4. Dapat duduk tenang beberapa menit
  5. Menunjukkan ketertarikan pada aktivitas di toilet dan merasa tidak nyaman saat mengompol/BAB di popok atau celana

Kesiapan orang tua:

  1. Siap berkomitmen untuk rutin mengajak anak ke toilet
  2. Siap dengan stok kesabaran
  3. Siap dengan kemungkinan harus membersihkan rumah lebih sering jika anak mengompol
  4. Lingkungan rumah kondusif (tidak sibuk dengan distraksi aktivitas lain yang menyita waktu panjang), hindari memulai toilet training saat baru memiliki adik/pindah rumah

Sebelum Memulai Toilet Training: Perhatikan Hal Berikut

Sebelum memulai proses toilet training, para orang tua dapat melakukan aktivitas pra-toilet training, yang bisa memudahkan proses toilet training nanti.

  1. Biasakan membersihkan BAK dan BAB di kamar mandi sedini mungkin
  2. Saat anak sedang mandi, para orang tua dapat mengajak anak untuk BAK, puji ketika berhasil
  3. Buat rutinitas toilet sebagai aktivitas yang menyenangkan

Bagaimana memulai proses toilet training

Berikut adalah beberapa panduan dasar untuk memulai proses toilet training anak yang dapat dilakukan oleh orang tua:

  1. Sounding

    Kenalkan anak dengan gambaran aktivitas toilet yang menyenangkan, seperti bagaimana BAK dan BAB di toilet, bagaimana menyiram sisa kotoran, bagaimana membasuh tubuh setelah BAK dan BAB, serta bagaimana melepas dan memakai celana setelah proses BAK dan BAB. Para orang tua dapat menggunakan alat bantu berupa video-video edukasi toilet training atau buku-buku bertema toilet training, sehingga anak lebih tergambar secara visual. Buat suasana bahwa aktivitas di toilet itu menyenangkan dan tidak menjijikan.

  2. Rutin mengajak ke toilet

    Saat memulai toilet training, orang tua dapat mengajak anak secara rutin ke toilet, dapat dilakukan setiap setengah jam, mendudukkan anak di toilet. Berhasil atau tidaknya anak BAK, konsistensi mengajak anak ke toilet harus tetap dilakukan. Dengan demikian, orang tua akan memahami pola BAK anak, apakah setiap 15 menit, apakah setiap 30 menit, apakah setiap 45 menit atau setiap 1 jam.

  3. Kenali tanda-tanda anak ingin BAK/BAB

    Para orang tua juga harus memahami tanda-tanda anak ingin BAK atau BAB. Orang tua dapat melihat dari gestur tubuh anak, seperti ‘menahan’ BAK/BAB, menunjuk toilet, berusaha membuka celana, atau bahkan sudah dapat mengatakannya sendiri “mau pipis”.

  4. Puji dan semangati anak

    Puji anak ketika berhasil melakukan BAK dan BAB di toilet, serta jangan mematahkan semangat mereka ketika gagal/mengompol sembarangan. Tetap semangati anak dan katakan “nanti kita coba lagi, ya, pipis dan pup di toilet”.

  5. Lakukan afirmasi berulang

    Selama proses toilet training berlangsung, para orang tua dapat secara rutin melakukan afirmasi berulang dengan mengatakan “Adek, kalau pipis dan pupup, bilang Bunda/Ayah, ya. Adek, kalau pipis dan pupup, di toilet, ya”. Kalimat tersebut terdengar sederhana dan apakah mungkin didengar anak? Ya! Lakukanlah rutin, percayalah anak Ayah Bunda pintar dan setiap yang didengar akan diproses di otaknya.

Hal Lain yang Harus Diperhatikan saat Proses Toilet Training

  1. Pastikan anak makan makanan yang cukup serat dan minum cukup air untuk menghindari konstipasi
  2. Hindari memaksa anak yang belum siap melakukan toilet training
  3. Hindari menampakkan ekspresi jijik di depan anak saat aktivitas BAK maupun BAB
  4. Gunakan alat bantu potty training (jika diperlukan) yang dapat memudahkan dan membuat nyaman anak saat proses toilet training, seperti potty berwarna lucu, celana training bermotif gambar kesukaan, alat peraga seperti boneka untuk bermain peran tentang toilet training
Potty Membantu Anak Buang Air Duduk
Potty Membantu Anak Buang Air Duduk

Semoga tips-tips di atas dapat membantu para orang tua dalam mendampingi proses toilet training pada anak. Sebagai motivasi bagi para orang tua: anak tanpa gangguan perkembangan, pasti lulus toilet training pada waktunya!