Semakin melonjaknya jumlah kasus positif virus COVID-19 atau Corona di Indonesia, membuat beberapa pemerintah daerah mulai melakukan upaya tes Serologis kilat atau Rapid Test di wilayah masing-masing. Upaya ini dilakukan untuk membantu penanganan potensi penyebaran virus Corona. 

Banyak orang menganggap Rapid Test sebagai cara mendiagnosa seseorang apakah orang tersebut positif terinfeksi virus Corona atau tidak. Padahal, tes ini hanyalah metode screening virus Corona saja. Bila seseorang dinyatakan positif terinfeksi virus Corona melalui Rapid Test, maka perlu dilakukan tes PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk mengkonfirmasikan pernyataan tersebut.

Nah, agar Anda tidak rancu dalam memahami kedua jenis tes coronavirus tersebut, di bawah ini kami telah merangkum beberapa informasi terkait perbedaan mendasar antara keduanya. Yuk simak!

Perbedaan Rapid Test dan Swab Test

Berikut ini beberapa perbedaan mendasar antara Rapid Test dan PCR (Swab Test) yang harus Anda pahami.

Rapid TestSwab Test
Parameter ujiImunoglobin dalam darahDNA virus corona
Keluar hasilHitungan menit2-7 hari
AkurasiTidak akuratSangat akurat
Sarana ujiBisa dimana sajaHarus lab BSL 2

Kegunaan Tes

Sama-sama digunakan untuk menguji virus Corona, nyatanya fungsi Rapid Test dan Swab Test sangat berbeda. Rapid Test merupakan tes (secara massal) yang berfungsi untuk screening potensi kasus positif virus Corona di masyarakat. Sementara, Swab Test berfungsi sebagai standar diagnostik virus Corona yang dianjurkan WHO (World Health Organization).

Metode dan Alat

Pada Rapid Test, metode pengujian dilakukan secara massal dengan menggunakan sampel darah. Sampel darah kemudian di cek menggunakan Rapid Test Kit  (alat tes darah berbentuk mirip alat tes kehamilan) untuk melihat adanya  reaksi antibodi (zat imunoglobulin) yang terbentuk ketika terserang virus

Sedangkan pada Swab Test (uji kerik), metode pengujian dilakukan dengan menggunakan sampel swab spesimen dari tenggorokan, mulut atau hidung. Setelahnya, akan dilakukan serangkaian tes pada sampel swab tersebut menggunakan metode bernama PCR (Polymerase Chain Reaction). Dengan metode ini, dapat terlihat melihat ada atau tidaknya DNA virus Corona pada sampel tersebut. Uji PCR ini juga sudah digunakan luas untuk mendeteksi berbagai penyakit infeksius seperti Hepatitis, virus HIV, dan TBC.

Ilustrasi uji PCR untuk melihat rantai DNA
Ilustrasi uji PCR untuk melihat rantai DNA

Lama Pengujian

Lama pengujian Rapid Test tergolong singkat. Umumnya hasilnya dapat diketahui sekitar 10-15 menit pengujian. Sedangkan pada Swab Test, lama pengujian memerlukan beberapa hari karena rumitnya rangkaian tes yang perlu dilakukan.

Akurasi Hasil Tes

Hasil Rapid Test tergolong tak akurat jika dibandingkan dengan Swab Test. Sebab, antibodi tak langsung terbentuk meski Anda telah terinfeksi virus Corona. Pembentukan antibodi butuh waktu setidaknya 7 hari sejak terinfeksi.

Dikarenakan hal tersebut, seringkali didapati hasil false negative virus Corona pada Rapid Test. Hasil false positive pun seringkali terjadi karena antibodi dapat terbentuk karena infeksi virus lainnya pula tak hanya virus Corona. Oleh karena itu, metode ini hanya digunakan untuk screening awal virus Corona saja (apabila hasilnya positif akan dilanjutkan dengan Swab Test untuk memastikan keakuratan hasilnya).

Tempat Pengujian

Pada Rapid Test, metode yang dilakukan sangat sederhana jadi bisa diuji di ruang laboratorium rumah sakit maupun puskesmas manapun. Sedangkan, metode Swab Test lebih rumit jadi hanya bisa dilakukan di laboratorium berstandar Biosafety Level (BSL) 2. Dimana pekerja laboratoriumnya dilatih secara khusus oleh ahli patogenik dan ilmuwan kompeten, aksesnya dibatasi ketika pengujian berlangsung. Tidak hanya itu, pekerja lab ini juga harus memakai kelengkapan khusus (misalnya pekerja lab wajib menggunakan alat pelindung diri (APD) seperti baju Hazmat, masker khusus dan sarung tangan khusus agar tidak terinfeksi virus).

Jika sebelumnya Swab Test terpusat di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) milik Kementerian Kesehatan, kini Swab Test juga dilakukan di beberapa lembaga, seperti Lembaga Eijkman, Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan (BTKL) dan Universitas Airlangga.

Ilustrasi APD untuk petugas kesehatan Covid-19
Ilustrasi APD untuk petugas kesehatan saat uji Covid-19

Kredit foto: Proses swab test oleh U.S. Army National Guard

Pandemi virus Corona yang terjadi hampir di seluruh dunia dan telah memakan korban sekitar 21.000 jiwa ini tentu harus semakin menyadarkan kita akan pentingnya menjaga kesehatan diri dan kebersihan lingkungan sekitar. Selain itu, kita wajib membekali diri dengan segala informasi yang tepat terkait virus Corona. Tidak hanya soal definisi maupun gejalanya saja tetapi juga tentang cara mengujinya. Agar tidak terjadi kerancuan pemahaman apalagi terhasut hoax mengenai virus Corona yang banyak beredar di tengah masyarakat.

Jangan lupa patuhi himbauan pemerintah untuk melakukan social distancing, dan usahakan tetap berada di rumah selama belum ada kepastian pandemi virus Corona berakhir, kecuali ada kebutuhan mendesak yang mengharuskan Anda keluar rumah. Ingat! Meskipun dinyatakan positif virus Corona Anda sebenarnya tak perlu dirawat di Rumah Sakit tak merasakan gejala apapun atau hanya sakit ringan. Anda cukup dirawat di rumah, melakukan isolasi mandiri  hingga sembuh. 

Kita bisa memutus rantai penyebaran virus ini jika semua pihak saling bekerja sama dalam penanganannya. Sekian dan semoga informasi kami bermanfaat.

There are currently no comments.