Jika kita mendengar istilah marketing mix (bauran pemasaran), biasanya yang muncul pertama dalam benak kita adalah metode marketing yang harus dilakukan perusahaan. Padahal, sebelum melompat pada proses “memarketingkan produk” kita harus terlebih dahulu mendifinisikan siapa target pasar dari produk bisnis yang hendak diluncurkan.

Marketing mix untuk mendefinisikan pasar
Marketing mix untuk mendefinisikan pasar

Tanpa adanya riset target market yang jelas, kita tidak akan tahu apakah produk ini potensial dari aspek bisnis atau tidak, baik dari sisi ukuran pasar (market size), daya beli, dan semacamnya. Oleh karenanya, konsep bauran pemasaran (yang semula 4P lalu dikembangkan menjadi 7P ini) dapat membantu Anda mendefinisikan target market yang tepat.

Aplikasi Marketing Mix 4P

Berikut penjabaran tools marketing menggunakan elemen 4P (Product, Price, Promotion, Place) dalam membantu Anda melakukan riset pasar yang tepat.

Cari Produk untuk Market Anda

Saat ini, bisnis yang kokoh selalu berpikir lebih banyak tentang customer dibanding produk mereka sendiri. Mengapa? Karena di era modern ini, hampir semua orang memiliki kesempatan untuk menciptakan produk sendiri.

Kesempatan yang terbuka lebar inilah yang membuat selera pelanggan kadang bisa beralih dengan cepat. Hanya produk yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan customer yang nantinya dapat bertahan di pasaran, istilah anak startup nya: product market fit canvas.

Don’t find customers for your product, find product for your customers

Seth Godin

Contoh sederhana dalam hal ini adalah Ruangguru. Saat lembaga bimbel berlomba-lomba mengeluarkan inovasi paket-paket bimbel, try out demi try out, Ruangguru justru keluar dengan inovasi 200% lebih baik, menawarkan itu semua dalam bentuk aplikasi berbasis daring.

Secara fungsi dan kualitas mungkin hampir sama, soal dan pembahasannya itu-itu juga, namun dikemas dalam teknologi yang berbeda. Produk mereka hadir sesuai dengan behavior target market anak muda saat ini yang sudah jadi native digital membuat aplikasi mereka laris manis di pasaran.

Strategi Pricing (Penentuan harga)

Pada bagian kedua ini, Anda butuh untuk lebih jauh mengenal tebal dompet dan kerelaan membayar dari target market produk Anda. Mengapa hal ini penting, karena harga mahal/murah itu relatif tergantung Anda menjualnya ke siapa.

Sebelum bicara lebih jauh, tentunya Anda juga harus memahami bahwa setiap kategori bisnis punya pricing strategy yang berbeda. Mulai dari penentuan margin, faktor inflasi dan sebagainya. Sebagai contoh, dalam bisnis kuliner, patokan margin kotor biasanya di angka 30%, hal ini dikarenakan life time dari produk yang relatif rendah, membuat adanya kemungkinan produk yang terbuang.

Dalam bisnis fashion, eletronik, sampai otomotif biasanya punya patokan margin umum nya masing-masing, tentu Andaa harus pelajari dahulu sebelum masuk dalam pricing yang sebenarnya.

Jika Anda tipe orang yang tidak mau ambil pusing, bisa juga menggunakan pendekatan top-down. Cukup lihat berapa rentang harga produk kompetitor, dan buat positioning produk Anda sendiri. Dari rentang tersebut Anda dapat menentukan harga minimum dan maksimum produk Anda di pasaran.

Mau tahu strategi yang lebih out-of the-box? Ikuti kaidah dasar dari strategi marketing berikut.

Kelas menengah membeli produk, Kelas atas membeli sugesti

Seorang kawan

Strategi Promosi

Pada poin ketiga ini, Anda dituntut untuk bisa main lebih jauh. Ya, strategi promosi sangat berkaitan erat dengan karakter target market Anda. Alasannya sederhana: orang senang melihat promosi hanya di saat-saat tertentu.

Jujur saja, kalau Anda sedang asyik menonton video di YouTube, lalu tiba-tiba tontonan Anda diganti dengan iklan saat sedang seru-serunya, menyebalkan bukan? Hal yang sama seperti Anda menerima pesan sms atau WhatsApp yang mengajak Anda membeli produk dengan iming-iming besok harga naik.

Oleh karenanya, Anda harus tahu taktik khusus agar promosi yang Anda lakukan tidak dianggap promo atau minimal tidak meninggalkan kesan jelek pada calon customer.

Endorsment vs Paid Ads vs Organic Reach?

Walaupun ada banyak sekali jenis strategi promosi, namun ketiga diatas itu adalah strategi promosi rata-rata usaha saat ini, sepakat?

Bagaimana cara menentukan strategi yang terbaik adalah kembali lagi pada judul besar bahasan kita: Target Pasar.

Contoh: Ada banyak produk yang bisa terjual cepat dengan endorsment, tapi produk casual seperti laptop bukanlah salah satunya.

Oleh karenanya, perhatikan behavior dari target market Anda. Apakah diskon dan giveaway bisa menjadi daya tarik mereka untuk membeli, atau justru rekomendasi dari teman dekat lebih berpengaruh. Apakah tipe produk ini yang dapat dibeli kapan saja atau hanya dibutuhkan dalam kondisi tertentu (contoh: vitamin anak)? Apakah dengan momentum tertentu bisa efektif untuk menjangkau market atau justru mereka lebih senang dengan evergreen konten?

Itulah sekelumit pertanyaan yang bisa menjadi inspirasi Anda dalam menentukan mana strategi promosi yang akan digunakan. Ingat, kembali lagi, kunci kesuksesan dari semua promosi adalah ketika mereka bisa hadir pada waktu yang tepat.

Place Strategy (Pemilihan Channel)

Dalam model bisnis konvensional seperti toko ritel, restoran, elemen Place ini sering diartikan sebagai tempat (lokasi) bisnis. Namun dalam artian sebenarnya, place/lokasi lebih tepat diartikan sebagai tempat berkumpulnya market baik dalam dunia nyata ataupun maya.

Jika menggunakan definisi seperti di atas, tidak ada salahnya kita mengartikan “place” dalam konteks kekinian bukan lagi sekadar lokasi tapi juga saluran atau channel. Dengan definisi yang baru ini, baru kita bisa mengembbangkan bentuk promosi dengan lebih efisien. Jika pertanyaan pada bab strategi promosi sebelumnya adalah metode, maka di bagian ini kita akan banyak berbicara mengenai tools.

Dalam konteks channel medsos, sepertinya tidak perlu saya jelaskan ulang karena bahasan ini sudah saya bahas pada tulisan marketing via media sosial.

Kembali pada pokok bahasan yaitu bagaimana menghadirkan branding produk kita ditengah-tengah tempat target market kita berkumpul. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa tempat ini bukan berarti harus sesuatu yang diam. Pengertian “place” ini bisa berarti luas seperti contoh di bawah ini:

PT Lalaland adalah owner beberapa apartemen yang berlokasi di pusat-pusat perkantoran Jakarta, agar lebih efektif meraih market, mereka memasang tv portable di setiap Go-car dan Grab-car yang beroperasi di wilayah DKI Jakarta. Selama penumpang menaiki mobil tersebut, tv portabel ini akan menampilkan katalog kamar, lokasi, serta profil bangunan yang mereka sediakan.

Tentu contoh diatas bukanlah ide yang pertama, sudah banyak bisnis sejenis yang menerapkan model promosi seperti itu. Tapi kira-kira begitulah cara kita menentukan place strategy yang tepat. Diperlukan ide kreatif dan pengalaman yang cukup hingga akhirnya kita bisa memastikan promosi tersampaikan di tempat yang seharusnya.

There are currently no comments.