Memutuskan untuk terjun ke dalam dunia bisnis lapangan seusai masa kuliah, harus saya akui memulai bisnis tidaklah semudah yang dibayangkan saat menghadiri seminar maupun mendengar kisah kasih para pengusaha yang telah sukses.

Saya sendiri merintis karir usaha pertama kali bermodalkan dana hibah dari salah satu NGO di luar negeri. Hanya beberapa bulan setelah lulus kuliah, usaha sosial saya cukup menghasilkan, paling tidak dapat memberi gaji sesuai standar UMR untuk satu orang pegawai dan upah 600-800rb perbulan untuk satu orang jasa kurir paruh waktu.

Dari pengalaman tersebut, saya mulai belajar apa itu bisnis dan bagaimana sebenarnya logika bisnis itu bekerja. Dibawah ini adalah 2 prinsip dasar bisnis yang saya dapatkan baik dari pengalaman, chit-chat media sosial, sampai sengaja searching cara memulai bisnis melalui mesin pencari Google.

1. Business by Design

bisnis by design

Menurut Anda, apa yang membedakan antara warung kopi Mpok Iyem dengan warung kopi Starbucks? Atau apa yang membedakan antara bengkel motor pinggiran dengan Honda Service Center?

Jika kita komparasi dari segi keahlian, produk atau jasa yang ditawarkan, mungkin (mungkin loh ya) kita akan tidak akan menemukan banyak perbedaan. Toh tidak sedikit juga kita temukan kedai kopi serta bengkel lokal kita yang selalu ramai.

Tapi dimana sebenarnya letak perbedaan itu sehingga Starbucks di tahun 2017 ini bisa memiliki 26.696 gerai di seluruh dunia?

Itulah makna dari doing business by design”. Perusahaan tersebut tidak besar hanya dalam semalam, mereka punya perencanaan yang matang, survey market yang kuat, dan pastinya punya roadmap perusahaan yang jelas. Sayangnya, di saat yang sama, banyak pelaku-pelaku usaha kita di Indonesia yang menjalankan bisnis dengan apa yang diistilahkan oleh Pak Budi Isman sebagai business by accident”.

Mereka menjual produk atau jasa karena hanya itulah yang bisa mereka lakukan. Jika seumur hidup keahlian yang Anda kuasai hanya bab menambal ban, maka membuka Institut Tambal Ban adalah satu-satunya usaha yang bisa dilakukan, contoh lainnya bisalah Anda terka sendiri.

Saya tidak berkata contoh di atas adalah hal yang buruk, namun, dari sudut pandang bisnis, apa yang Anda lakukan kurang cukup alasan mengapa bisnis Anda harus berkembang.

Oleh karena itu, berhubung belum terlambat karena saya mengasumsikan para pembaca tulisan ini adalah orang yang baru mau memulai bisnis, mulailah bisnis yang memang Anda rancang untuk berkembang di kemudian hari.

Jangan lagi berpikir tentang keahlian-keahlian masa lalu Anda, belajarlah untuk merancang bisnis berangkat dari apa yang dibutuhkan orang hari ini, dan trend pergerakannya dalam jangka panjang.

Baca juga: Strategi Pemasaran Produk, Kualitas atau Sugesti?

2. Temukan Produk untuk Pelanggan Anda

cari konsumen produk anda

Poin kedua ini sebenarnya masih relevan dengan tulisan yang pertama, bagaimana merubah orientasi atau cara pandang kita terhadap bisnis.

Buat Anda yang sudah memiliki bisnis, produk, atau usaha lain saat membaca tulisan ini, mungkin ada saatnya kita akan berada pada satu titik dimana semua kolega dan keluarga sudah jenuh untuk mendapatkan penawaran dari kita, artinya kita sudah harus masuk ke pasar yang lebih luas dan bersaing ketat mengakuisisi market untuk produk kita.

Tapi pernahkah kita berpikir, memulai bisnis dengan cara mencari produk atau service apa yang sedang dibutuhkan oleh market masyarakat Indonesia yang sangat luas ini? Dalam skala makro, kita bisa lihat penetrasi raksasa website E-Commerce asal China, Alibaba yang masuk dalam persaingan pasar logistik di Indonesia dengan nama J&T Expresss.

Mereka tidak perlu repot lagi menjelaskan mengenai jasa apa yang mereka tawarkan, kelebihan menggunakan kurir dibanding mengantar barang sendiri, ataupun bagaimana menggunakan jasa mereka, hampir semua masyarakat kita sudah tahu dan butuh itu, hanya tinggal bicara siapa yang paling cepat, terjangkau, dan terpercaya.

Ini prinsip bisnis kedua, cari apa yang dibutuhkan market jika kita memang sudah lelah ditolak saat membawa produk kita kemana-mana.

Sebenarnya, membuat produk terlebih dahulu baru mencari siapa konsumennya bukanlah hal yang salah, toh 10 tahun lalu bisnis logistik atau ekspedisi juga belum banyak terdengar.

Namun, kita perlu sadar bahwa membuat produk inovatif membutuhkan riset market yang mendalam sehingga kita tahu kemana arah pasar kita dan apakah produk kita benar-benar dibutuhkan di masa yang akan datang.

Dalam bisnis hal ini biasa diistilahkan sebagai “blue ocean” dimana bisnis kita mencoba untuk membuka market yang baru alih-alih bersaing di market yang sudah ada (“red ocean“). Tapi lagi-lagi, orientasinya akan tetap kembali ke bagaimana customer kita, tidak semata-mata hanya karena kita ingin, hanya karena itu saja keahlian kita, maka bisa dijadikan sebagai bisnis.

Pahami target pasar, ukur seberapa besar kemampuan pasar dalam membeli produk, lalu tetapkan bagaimana cara Anda menjangkau pasar tersebut. Dalam hal ini, bisa juga Anda gunakan model bisnis kanvas untuk mempermudah cara Anda merancang bisnis. Bagaimana, sudah siap memulai sebuah “business by design”?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  1. Pingback: Mint
  2. Pingback: writeaessay