Banyak orang mengira bahwa makalah, paper, dan jurnal ilmiah merupakan hal yang sama, padahal ketiga hal tersebut sangat berbeda. Makalah bila dilihat di KBBI mempunyai dua arti yang berbeda; yang pertama adalah tulisan resmi tentang suatu pokok yang dimaksudkan untuk dibacakan di muka umum di suatu persidangan; dan yang kedua didefinisikan sebagai karya tulis pelajar atau mahasiswa sebagai laporan hasil pelaksanaan tugas sekolah atau perguruan tinggi.

Badan Standarisasi Nasional atau BSN mengatakan bahwa sebuah karya tulis disebut makalah jika memenuhi beberapa syarat berikut; makalah merupakan pemikiran sendiri, belum pernah dipublikasikan, mengandung unsur kekinian dan bersifat ilmiah.

Lalu apa saja perbedaan paper, jurnal, dan makalah ilmiah? Berikut karakteristiknya:

Karakteristik Makalah

  • Makalah membahas kajian literatur yang sudah ada atau dari laporan pelaksanaan kegiatan lapangan.
  • Makalah umumnya dibuat untuk dipresentasikan pada suatu seminar, sidang, atau diskusi.
  • Bagian pokok yang harus ada pada makalah adalah Pendahuluan, Isi, dan Kesimpulan.

Karakteristik Paper

  • Paper berupa karya tulis ilmiah yang biasa digunakan untuk mendokumentasikan sebuah penelitian yang baru. Namun tidak menutup susunan paper juga digunakan untuk review penelitian yang sudah ada.
  • Terdiri dari tiga bagian pokok yaitu Topik, Data, dan Argumen.

Karakteristik sebuah Jurnal Ilmiah

  • Jurnal Ilmiah berupa media kumpulan karya ilmiah yang diterbitkan setiap kurun waktu tertentu.
  • Sebelum di publikasikan, Jurnal Ilmiah  harus melewati proses peer-review untuk menyeleksi dan menentukan apakah sebuah paper atau makalah yang di submit ke jurnal tersebut layak diterbitkan atau tidak. Proses peer-review dilakukan oleh satu atau beberapa pemeriksa yang juga merupakan ahli atau akademisi di bidang yang dikaji.

Contoh Makalah Ilmiah

Berikut contoh makalah ilmiah dari sebuah penelitian aktual yang dilakukan di sebuah Perguruan Tinggi Negeri ternama di Indonesia. Dalam membuat sebuah kerangkan ilmiah, Anda dapat menjadikan contoh dibawah ini sebagai referensi kerangka ilmiah resmi dalam level pendidikan tinggi.

contoh cover makalah ilmiah
Contoh cover makalah ilmiah

Judul Makalah Ilmiah: Proses Dinamis Pada Pengukuran Temperatur menggunakan Thermowell

Laboratorium Rekayasa Termodinamika III
Sekolah Ilmu Seni dan Teknologi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dalam sebuah rangkaian unit proses sebuah industri biokimia, seringkali terjadi proses–proses yang menyebabkan munculnya perubahan temperatur. Penyabab hal tersebut di antaranya pemberian energi panas dari luar akibat proses pemanasan dan energi panas yang dilepaskan sebagai hasil dari proses biokimia yang terjadi.

Temperatur lingkungan menjadi salah satu faktor yang sangat penting dalam sebuah industri yang menggunakan agen–agen biologi sebagai salah satu komponen industrinya. Hal tersebut disebabkan adanya proses–proses biologis yang rata–rata merupakan reaksi enzimatis dan sangat sensitif terhadap temperatur lingkungan.

Alat pengukur temperatur yang lazim digunakan adalah termometer. Pada setiap termometer terdapat waktu respon terhadap pembacaa n temperatur ligkungan yang berbeda–beda. Waktu respon ini akan sangat tampak pada saat terjadi perubahan temperatur lingkungan secara mendadak, baik dari temperatur tinggi ke temperatur rendah, maupun sebaliknya.

Pemilihan termometer yang tepat akibat perbedaan respon antara satu termometer dengan termometer yang lain menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan sebab hal tersebut sangat berpengaruh terhadap ketepatan pembacaan temperatur oleh termometer  pada sebuah industri. Dengan demikian, sebagai seorang bioengineer yang mempelajari proses–proses pada unit operasi sebuah industri, sangatlah perlu untuk mempelajari proses dinamis pada pengukuran temperatur.

1.2  Tujuan

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, tujuan–tujuan dari praktikum ini dapat dibentuk. Tujuan umum yang harus dicapai oleh praktikan adalah praktikan dapat memahami proses dinamis yang terjadi pada pengukuran temperatur dengan menggunakan termometer. Dari tujuan umum tersebut dapat dibagi kembali menjadi dua tujuan khusus yaitu:

  1. Praktikan dapat menentukan nilai konstanta waktu τ termometer raksa tanpa Thermowell.
  2. Praktikan dapat menentukan nilai konstanta waktu τ termometer raksa dengan Thermowell.

BAB II
TEORI DASAR

Temperatur merupakan satuan yang merepresentasikan panas dari suatu

materi. Perbedaan temperatur akan menyebabkan adanya aliran panas dari temperatur yang tinggi ke temperatur yang lebih rendah. Oleh karena itu, temperatur dapat didefinisikan sebagai variabel dorongan (force variable) yang dapat menyebabkan mengalirnya panas (kalor) sebagai variabel alirannya (flow variable) (Arhur T. Jhonson, 1999). Neraca perpindahan kalor dapat diformulasikan sebagai berikut:

Laju akumulasi panas = Laju panas masuk – Laju panas keluar

Asumsi yang digunakan pada persamaan di atas adalah:

  1. Tidak ada kalor yang keluar (karena T lingkungan lebih tinggi)
  2. Dinding gelas tipis sehingga hambatan karena konduksi dapat diabaikan.
  3. Tidak terjadi kontraksi atau pemuaian  dinding gelas yang berakibat pada perubahan volume fluida termometer.
  4. Koefisien konveksi fluida termometer relatif besar sehingga dianggap tidak ada panas yang terbuang akibat konveksi ini.
  5. Kapasitas panas fluida konstan dan temperatur fluida termometer sama di semua titik.

BAB III
METODE KERJA

3.1 Alat dan Bahan

Alat dan bahan yang dipakai dalam percobaan ini adalah sebagai berikut:

NomorAlatBahan
1Termometer air raksaAir
2Gelas kimiaEs
3Tabung reaksiThermowell air
4StopwatchThermowell glukosa
6Pemanas listrik 
Alat dan Bahan Penelitian Ilmiah

3.2 Langkah Kerja

Langkah kerja percobaan ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu kalibrasi termometer dan penentuan konstanta waktu τ.

3.2.1 Kalibrasi Termometer

Pertama-tama kalibrasi dilakukan pada kondisi panas. Termometer air raksa dimasukkan ke dalam air mendidih. Kemudian ditunggu hingga temperatur yang tertera pada termometer mencapai angka yang steady state. Temperatur yang sudah steady state tersebut dicatat. Setelah itu perlakuan yang sama juga diberikan kepada kondisi dingin.

Termometer air raksa dimasukkan ke dalam air es. Kemudian ditunggu hingga temperature yang tertera pada termometer mencapai angka yang steady state. Temperatur yang sudah steady state tersebut juga dicatat sehingga didapatkan dua buah temperatur. Kalibrasi di dua kondisi ini dilakukan sebanyak tiga kali.

Setelah itu kedua temperatur yang telah dicatat dibandingkan dengan titik beku dan titik didih air pada tekanan udara di Jatinangor. Tekanan udara pada saat percobaan dilakukan adalah 1006 mb. Setelah itu kurva kalibrasi antara temperatur nyata dan temperatur hasil percobaan dibuat.

3.2.2 Penentuan Konstanta Waktu τ

Kondisi awal langkah kerja ini adalah dari panas ke dingin. Termometer air raksa dimasukkan ke dalam air yang mendidih dan ditunggu hingga mencapai keadaan steady state. Temperatur yang steady state itulah yang menjadi temperatur awal (T0) kondisi panas. Kemudian termometer dipindahkan ke air es dan dicatat perubahannya setiap detik. Langkah ini dilakukan sebanyak tiga kali.

Kondisi lainnya adalah dari dingin ke panas. Termometer air raksa dimasukkan ke dalam air es dan ditunggu hingga mencapai keadaan steady state. Temperatur yang steady state itulah yang menjadi temperatur awal (T0) kondisi dingin. Termometer dipindahkan ke air mendidih dan dicatat perubahannnya setiap detik. Langkah ini dilakukan sebanyak tiga kali.

Dua kondisi berikut dilakukan kembali tetapi menggunakan thermowell. Thermowell yang digunakan pada percobaan kali ini adalah air dan glukosa.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kalibrasi Termometer

Pada percobaan kalibrasi termometer, didapatkan nilai titik didih hasil perhitungan dengan bacaan termometer pada praktikum berbeda. Pada hasil perhitungan nilai titik didih air adalah 99.89oC sedangkan bacaan termometer

pada percobaan menunjukkan nilai 96oC. Perbedaan nilai tersebut dikarenakan

pada setiap alat ukur temasuk termometer terdapat faktor koreksi. Faktor koreksi termometer raksa yang digunakan pada percobaan ini adalah 1.04. Nilai tersebut menunjukkan bahwa faktor koreksi masih dapat diterima sehingga termometer dapat dipakai.

4.2 Ketepatan Nilai τ

Pada percobaan pengukuran temperatur dari kondisi panas ke dingin tanpa menggunakan thermowell, diketahui untuk ulangan satu dan ulangan dua, nilai R2 hanya mencapai 0.8, angka ini termasuk yang paling kecil untuk R2 di semua percobaan baik yang menggunakan thermowell maupun yang tidak menggunakan

thermowell. Hal ini dikarenakan pada percobaan pengukuran temperatur  dari kondisi panas ke dingin tanpa menggunakan thermowell, perubahan aras air raksa dalam termometer sangatlah cepat untuk t yang mendekati 0, sehingga praktikan mengalami kesulitan untuk menentukan temperatur tertentu pada rentang waktu tersebut. Hal ini memungkinkan terjadinya galat pada data temperatur di beberapa

titik yang mengakibatkan kelinieran grafik (R2) pada percobaan ini paling kecil

dibanding hasil R2 pada percobaan yang lain.

4.3 Perbedaan Nilai τ antara Penurunan dan Kenaikan Temperatur

Pada percobaan penentuan nilai τ, dengan atau tanpa thermowell, terjadi perbedaan antara pemindahan termometer dari es mencair ke air mendidih (kenaikan temperatur) dan sebaliknya (penurunan temperatur). Misalnya kita ambil contoh pada percobaan tanpa thermowell. Nilai τ yang didapat pada proses kenaikan temperatur adalah 2.451 ± 0.267 sec, sedangkan untuk proses penurunan

temperatur nilai τ adalah 12.535 ± 4.705 sec. Pada percobaan ini nilai massa, kapasitas kalor, dan luas permukaan pada sistem termometer sama. Berarti yang mempengaruhi perbedaan nilai τ adalah koefisien konveksi, h, dari fluida lingkungan (air mendidih atau es mencair).

Nilai h pada peristiwa air mendidih dan kondensasi merupakan nilai h yang sangat tinggi dibandingkan nilai h pada kondisi lain (Johnson,1999). Nilai koefisien konveksi berbanding terbalik dengan nilai nilai konstanta waktu sehingga saat termometer dipindahkan dari lingkungan es mencair ke air mendidih, nilai koefisien konveksi akan sangat besar, dan nilai konstanta waktu akan lebih rendah jika dibandingkan dengan peristiwa memindahkan termometer dari air mendidih ke lingkungan es mencair.

4.4 Perbedaan Nilai τ antara Termometer tanpa dan dengan Berbagai Macam Bahan Thermowell

Selain terjadi perbedaan nilai τ pada peristiwa kenaikan dan penurunan temperatur, variasi nilai τ juga terjadi pada keadaan dengan berbagai macam atau tanpa thermowell. Misalnya diambil contoh pada percobaan kenaikan temperatur pada sistem dengan thermowell air dan sistem tanpa thermowell. Pada percobaan dengan thermowell air, nilai konstanta waktu proses kenaikan temperatur adalah 41.923 ± 10.859 sec.

Berbeda dengan nilai konstanta waktu pada sistem tanpa thermowell, yaitu 2.451 ± 0.267 sec. Perbedaan tersebut diakibatkan oleh berubahnya neraca energi yang terjadi pada sistem dengan thermowell. Perubahan yang terjadi akibat kalor dari lingkungan (air mendidih) tidak langsung berpindah ke termometer, melainkan digunakan juga untuk memanaskan fluida dalam thermowell, sehingga persamaan neraca energinya berubah menjadi :

Qtermometer + Qthermowell = Qin

Akibat terbaginya energi kalor dari lingkungan maka waktu yang dibutuhkan untuk menaikkan temperatur raksa dalam termometer semakin lama, sehingga nilai τ pada sistem dengan thermowell jauh lebih besar jika dibandingkan dengan tanpa thermowell.

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Konstanta waktu dari termometer tanpa thermowell untuk kondisi panas ke dingin adalah 12.535 ± 4.705. Konstanta waktu dari termometer tanpa thermowell untuk kondisi dingin ke panas adalah 2.451 ± 0.267. Konstanta waktu dari termometer dengan thermowell air untuk kondisi panas ke dingin adalah 89.194 ± 4.835.

Konstanta waktu dari termometer dengan thermowell air untuk kondisi dingin ke panas adalah 41.923 ± 10.859. Konstanta waktu dari termometer dengan thermowell glukosa untuk kondisi panas ke dingin adalah 128.900 ± 19.739. Konstanta waktu dari termometer dengan thermowell glukosa untuk kondisi dingin ke panas adalah 43.686 ± 5.884.

Konstanta waktu akan lebih besar jika pengukuran temperatur dilakukan dengan menggunakan thermowell.

5.2 Saran

Berdasarkan percobaan yang dilakukan menggunakan termowell, praktikan menganggap diperlukannya penyangga pada mulut termowell (tabung reaksi) dengan alat ukur termometer agar sensor air raksa pada termometer dipastikan untuk tidak menyentuh tabung reaksi secara langsung. Selain itu, pada bejana berisi air panas, dperlukan stirrer pada proses pemanasan agar proses konveksi pada air yang sedang dipanaskan homogen (merata) suhunya pada setiap titik di bejana air panas tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Jhonson, T. Arthur. 1999. Biological Procss Engineering. John Wiley & sons. Inc. New York. Halaman 3 dan 326–327

Thomsen, Volker. 1998. Response Time of a Thermometer. The Physics Teacher Vol. 36

Batan. Kalibrasi Alat Ukur. Tersedia: www.batan.go.id/pusdiklat/. Diakses pada hari Senin, 24 Februari 2014 pukul 01.30

The Engineering Toolbox. Pressure and Boiling Points of Water. Tersedia: www.engineeringtoolbox.com. Diakses pada hari Rabu, 19 Februari 2014 pukul 19.00

World Weather Online. 2014. Perumahan Jatinangor Tanjungsari Weather, Indonesia. Tersedia: www.worldweatheronline.com. Diakses pada hari Rabu, 19 Februari 2014 pukul 18.30


Download Contoh Makalah Ilmiah [PDF]

Untuk mendownload contoh makalah ilmiah di atas secara lengkap, Anda dapat mengunduhnya lewat tombol unduh di bawah ini:

Jika kamu tertarik melihat lebih banyak contoh makalah akademik serupa dalam format Microsoft Word (editable), Anda dapat lompat langsung ke bagian Download Makalah (doc) ini untuk mengunduhnya.

contoh penghitungan dan analisa data
Contoh penghitungan dan analisa data dalam makalah di atas

Langkah-langkah Membuat Makalah

Lalu bagaimana langkah-langkah membuat makalah yang baik dan benar yang sesuai dengan kaidah dan metode ilmiah? Berikut tahapan singkat yang bisa kamu lakukan secara mandiri ataupun berkelompok:

  1. Langkah yang pertama adalah menentukan topik

    Topik merupakan tema bahasan utama yang diangkat di dalam makalah. Umumnya, topik dapat ditemukan langsung sejak penulisan latar belakang masalah.

  2. Tentukan format dan jenis makalah yang akan dibuat

    Setelah memilih judul, Anda harus menentukan makalah akan dibuat berdasarkan penelitian yang dilakukan secara langsung atau cukup dengan studi literatur. Jika makalah Anda merupakan penelitian atau pengambilan data primer, ada baiknya Anda menentukan metode penelitian yang akan digunakan.

  3. Lakukan penelitian atau studi literatur

    Setelah tahu jenis makalah apa yang dibuat, Anda perlu langsung action untuk menjalankan riset baik itu berupa eksperimen, pengumpulan data, maupun observasi dari sumber-sumber referensi tertentu.

  4. Rencanakan dengan membuat kerangka makalah

    Kerangka ilmiah dibutuhkan untuk memastikan karya ilmiah yang Anda susun tidak melebar isi dan bahasannya. Selain itu, kerangka karya tulis juga dapat membantu Anda dalam mempersiapkan data dan analisa yang harus disajikan di dalam makalah ilmiah.

  5. Tulis makalah sesuai dengan PUEBI

    Setelah makalah siap ditulis, Anda juga harus selektif dalam pemilihan bahasa. Bahasa yang digunakan dalam makalah haruslah sesuai PUEBI dan untuk makalah internasional harus menggunakan Bahasa Inggris yang sesuai dengan scientific writing.

Kerangka Makalah Ilmiah

1. Sampul Makalah

Nama penulis pada makalah merupakan nama asli ditulis secara lengkap beserta gelar. Alamat penulis pada makalah adalah tempat instansi atau universitas di mana penulis menempuh jenjang. Tahun terbit adalah tahun pada saat makalah selesai dibuat dan penulisannya kemudian diterbitkan untuk umum.

Judul pada halaman cover atau sampul menggunakan huruf kapital yang dicetak tebal dengan menggunakan jenis huruf Times New Roman dengan besar font sebesar 14, ditulis dengan pengaturan layout center (rata tengah). Untuk penulisan nama penulis dan tidak diperlukan huruf kapital untuk semua kata, cukup huruf kapital di awal kata. Namun untuk penulisan keterangan nama instansi atau jenjang pendidikan menggunakan huruf kapital dengan dicetak tebal.

2. Abstrak

Abstrak ditulis dalam dua bahasa atau dua versi, yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Untuk penulisan dalam Bahasa Indonesia batas penulisannya tidak lebih dari 250 kata, sedangkan dalam Bahasa Inggris tidak lebih dari 200 kata. Abstrak merupakan rangkuman lengkap penulisan makalah dari bahasan pokok, hipotesa, metodologi penelitian, dan hasil penelitian yang diperoleh beserta kesimpulan.

3. Daftar Isi

Daftar isi merupakan bab di mana isi makalah dan di halaman berapa isi tersebut dituliskan. Dalam sebuah makalah ilmiah di Perguruan Tinggi, biasanya dilengkapi pula dengan daftar gambar dan daftar tabel.

4. Kata Pengantar

Berisi sambutan penulis yakni ucapan syukur kepada Tuhan YME, serta ucapan terima kasih kepada pihak-pihak terkait yang telah mendukung dan membantu menyelesaikan makalah. Selain itu, kata pengantar dalam makalah juga mencakup isi dari keseluruhan esensi makalah, yaitu membahas isi makalah secara menyeluruh namun umum. Hal ini perlu dilakukan agar pembaca mempunyai pandangan umum terhadap makalah yang telah penulis buat.

5. Pendahuluan

Pendahuluan merupakan bahasan awal topik penelitian di dalam makalah yang disusun oleh dan dari sudut pandang penulis. Dalam menulis pendahuluan dapat dijelaskan secara umum dan singkat namun tujuan dan maknanya jelas.

6. Latar Belakang

Latar belakang pada masalah merupakan sub bab di mana kita dapat menjelaskan secara umum permasalahan yang terjadi, serta alasan dan mengapa permasalahan tersebut perlu dibahas.

7. Rumusan Makalah

Rumusan masalah berisi pokok masalah yang ditemukan. Biasanya rumusan masalah sangat singkat dan padat, tidak lebih dari satu paragraf serta berisi poin-poin pertanyaan atau masalah yang akan diteliti. Poin pertanyaan biasanya antara 2 sampai 3 pertanyaan. Rumusan masalah merupakan hasil pengerucutan dari bahasan pada latar belakang yang telah diulas sebelumnya. 

8. Tujuan Pembahasan

Tujuan pembahasan berisi manfaat dari penelitian yang dilakukan. Pada dasarnya manfaat ini ditujukan untuk pembaca. Manfaat diperoleh jika telah menemukan hasil atau kesimpulan dari permasalahan dan konfirmasi dari hipotesa awal. Tujuan pembahasan biasanya ditulis secara singkat namun menggambarkan serta mendeskripsikan manfaat penelitian kepada pembaca.

9. Isi

Isi berisi uraian pokok dari topik makalah. Isi menjelaskan tentang permasalahan, penelitian yang dilakukan, metode penelitian, tempat penelitian, sasaran penelitian, serta penjabaran hasil data-data yang diperoleh di lapangan. Data yang diperoleh bisa merupakan data kualitatif, data kuantitatif, maupun mixed methods.

Jika data dilakukan dengan proses wawancara, maka penulis bisa mencantumkan kutipan hasil pembicaraan dengan orang yang di wawancara atau narasumber tersebut. Namun jika data penelitian berupa data kuantitatif dapat mencantumkan hasil penelitian berupa daftar tabel berisi angka atau hal-hal yang bersifat numerik. Metode penelitian dapat dilakukan dengan metode survey, wawancara, dan pengamatan serta pengambilan data di lapangan.

10. Kesimpulan

Kesimpulan merupakan penjabaran dari hasil penelitian yang diperoleh. Hasil penelitian diperoleh dari analisis rumusan masalah yang ditemukan kemudian dianalisis menggunakan teori dan metode penelitian yang dilakukan, sehingga diperoleh kesimpulan penelitian. Kesimpulan bisa sesuai dengan hipotesa namun bisa juga tidak sesuai dengan hipotesa awal sehingga muncul sebuah kesimpulan baru dari rumusan masalah yang telah dijabarkan sebelumnya

11. Saran

Saran lebih ditujukan penulis kepada pembaca. Saran diperoleh dari kesimpulan penelitian untuk lebih dikembangkan kembali, ditindaklanjuti, maupun diterapkan. Saran berisi manfaat penelitian kepada pembaca berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh kemudian diharapkan agar dilaksanakan atau diterapkan oleh pembaca.

12. Penutup

Penutup berisi ucapan terima kasih terhadap pihak-pihak yang telah membantu menyelesaikan makalah dan harapan penulis kepada para pembaca. Dalam bab penutup ini dijelaskan pula kekurangan serta kelebihan penulisan makalah penelitian tersebut.

13. Daftar Pustaka

Hal yang paling terakhir adalah daftar pustaka. Daftar pustaka haruslah dicantumkan dalam sebuah makalah.

Menulis makalah ilmiah memang terkesan merepotkan apalagi di awal-awal saat menentukan topik, tentu perlu memncari referensi di mana-mana baik buku, jurnal, maupun internet. Namun, hasilnya sangat bermanfaat karena dapat melatih kita menulis serta berpikir kritis.

Download Contoh Tugas Makalah [DOC]

contoh tugas makalah bahasa indonesia
contoh tugas makalah bahasa indonesia

Berikut sampel dokumen makalah ilmiah dalam format Word yang siap untuk diedit. Berikut contoh makalah ilmiah yang dapat kamu unduh setelah membagikan artikel di media sosial favorit kamu.

Makalah Bahasa Indonesia
Judul: Paragraf Narasi, Deskripsi dan Eksposisi

There are currently no comments.